Monday, April 3

Nusa Ceningan - A Beautiful Tiny Island

Pertama kali dengar nama Nusa Ceningan, saya mikir ada apasih disana? Pulau kecil yang terletak di selatan pulau Bali ini sekarang ga kalah hits sama induknya! 

Kita bisa sampai di Nusa Ceningan awalnya melalui Nusa Lembongan terlebih dahulu dengan memakai fast boat dari pantai Sanur, Bali dengan tiket seharga Rp 175.000 dan kurang lebih 30 menit kita sudah sampai di pantai Jungut Batu (Nusa Lembongan). 

Pantai Jungut Batu, Nusa Lembongan

Setelah sampai di Jungut Batu, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Di tempat makan itu, kami mengobrol dengan warga lokal yang ada untuk mencari informasi penyewaan motor dan penginapan.

Selesai makan siang, kami menuju penginapan yang diberitahu warga lokal yang ada di tempat makan (iya, dia membantu mencarikan penginapan yang masih kosong).

Untuk penginapan selama di sini, saya lebih merekomendasikan untuk menginap di Nusa Lembongan dibanding Nusa Ceningan. Karena relatif lebih ramai, banyak pilihan dengan harga yang beragam. 

Waktu itu kami pergi pada saat peak season. Yang dimana penginapan selalu full dan di mark-up harganya. Kami akhirnya mendapatkan penginapan dengan harga Rp 100.000/malam .Hahahaha tapiiiiii penginapan ini sesuai harga pastinya! We can't complain. Cuma penginapan ini yang kami dapat dan paling murah! Yak! Lucu sih kalo diingat-ingat. Pemilik penginapan ini adalah warga lokal yang sudah lumayan berumur, pendengarannya sudah "agak-agak". Jadi, ada saja tingkahnya yang bikin kami ga bisa menahan tawa. Tapi baik sih untungnya :))

Setelah istirahat sejenak, mengganti pakaian kami langsung meng-explore pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Ya.. kedua pulau ini letaknya bersebelahan yang hanya dihubungkan dengan jembatan kecil yang bernama "The Yellow Bridge".



Nusa Ceningan di depan mata

The Yellow Bridge yang menghubungkan Nusa Lembongan dengan Nusa Ceningan
Warga lokal menjadikan rumput laut sebagai salah satu mata pencaharian 

Anak-anak lokal Nusa Ceningan


Secret Point Huts, merupakan pintu masuk menuju Secret Point Beach

Secret Point Beach, Nusa Ceningan



Sunset 

Love at the first sight! Blue Lagoon! Cantik pake banget.

Pantai Jungut Batu, back to Sanur Beach

Menurut saya, cukup kok 2-3 hari untuk meng-explore kedua pulau ini.  Dan dengan hanya waktu yang singkat itu sudah cukup untuk membuat saya merasa fall in love at the first sight pada Nusa Ceningan. Terutama Blue Lagoon nya, cantik banget!


Xo,
sonia

Thursday, March 23

23/3


"Your Lord did not abandon you,
nor did he forget"

(93:3)


Tuesday, March 21

Daily Story #1 Failed


Siapa sih yang mau gagal terus-terusan? Udah usaha semampunya tapi hasil yang di dapat tetap aja kegagalan. Kecewa? Jelas! Tapi, kalau dibiarkan terus tanpa usaha lagi maka gak akan ngerubah apapun.

Jalan hidup orang udah pasti berbeda-beda. Rezeki yang di dapat pun juga. Harusnya kita sadar no complaint for this case. Kadang atau bahkan sering kita mencoba cara yang sama dengan orang lain untuk mendapatkan hal yang sama-sama menjadi impian tapi hasil akhirnya sangat berbeda jauh. Ia berhasil hanya dengan satu-kali mencoba sedangkan kita gagal. Hal yang biasa sebenarnya.

Sabtu pagi itu saya baru pulang ke rumah, lalu bapak saya bertanya pada saya, "Kapan tes online B**S (salah satu instansi BUMN di Indonesia) ?"

Saya menjawab, "Selasa besok tanggal 21 jam 8 pagi"

Lalu bapak saya bilang, "Libur kan tanggal segitu, banyak yang bantuin nanti"

Saya pun bertanya, "Kenapa sih apa-apa mesti dibantuin?"

"Ya biar lolos, kamu kan udah sering tes psikotes tapi gagal terus", jawabnya.

Honestly. These word is so sadly for me. Mood, down seketika. Ganafsu makan dan-sebagainya hanya karena apa yang bapak saya bilang. Sampai saya menulis ini pun masih menangis. Merasa kalau apa yang saya usahakan sia-sia. Merasa kalau orangtua saya sendiri seakan tidak percaya dengan kemampuan anaknya. Tes sana sini. Gagal. Dan begitu seterusnya.

"Nanti tuh ada confirmary test (test ulang). Jadi, gausah lah dibantuin" kata saya.

"Ya jangan begitu, jangan selalu bilang rejeki-rejeki"

Nampaknya bapak saya ingat kalau saya selalu bilang, "Kalau rezeki ga-akan-kemana, kalo bukan rezeki kita mau usaha gimana juga ga-akan jadi milik kita atau bukan jalannya disana atau belum waktunya" Saya percaya banget hal itu.

Dan saya bukannya gamau dibantu, bukannya idealis. Tapi, waktu tes di tahun 2016 pun saya gak lolos dibantu adik saya. Jadi bisa ditarik kesimpulan? Yang saya pikirkan saat ini, tes-tes seperti ini memang tujuannya mengetahui kemampuan kita. Jadi alangkah baiknya mengerjakan dengan percaya pada diri sendiri dan tenang. Lagipula, kalau berhasil dengan hasil usaha sendiri rasanya jauh lebih menyenangkan! 

Mungkin saya gak seberuntung orang lain yang dengan mudahnya lolos dengan mencoba di waktu pertama kali. At least, i tried.. Dari kegagalan itu saya tau hal apa saja yang harus saya perbaiki. Dari kegagalan itu saya jadi tau pola-pola soal tes. Ya ga mudah memang.. tapi sekali lagi i tried, dengan percaya pada diri sendiri tanpa bantuan orang  lain.

Mungkin, bapak saya cemas dan menginginkan yang terbaik. Dan merasa saya ga maksimal dalam mengerjakan tes. Tapi kan yang menjalani saya?

Saya percaya kalau saya gagal atau tidak mendapatkan sesuatu yang saya inginkan, berarti itu bukan yang terbaik bagi saya. Doa orangtua memang mustajab. Tapi saya juga mempunyai doa saya sendiri yakni meminta yang terbaik dalam hal apapun.

Bagi saya, yang dibutuhkan bagi orang yang selalu mengalami kegagalan hanyalah support. Sepele sih hanya itu. Tapi pernah ga sih ngalamin kalau kita lagi down banget ada aja yang ngasih kita support dan membuat kita jadi semangat lagi mengejar impian kita? It's beautiful and powerful to hear than anything.

Pilih-lah kata-kata yang baik yang terkesan tidak membandingkan atau menyepelekan. 

Inna shafa wal marwatha,

Siti Hajar saja harus bolak-balik dengan total 7 kali bukit shafa-marwa untuk mendapatkan air untuk nabi Ismail yang kehausan. Tapi pada akhirnya air tersebut malah muncul di kaki nabi Ismail dan mengalir sampai sekarang yang kita kenal sebagai air zam-zam. 

Yang terpenting memang usaha. Seterusnya biar Allah-lah yang mengatur semuanya. Sesungguhnya hanya Dia yang berhak menghendaki apa pun.

"Kegagalan sebagai ujian kesabaran, kegagalan melihat kelemahan diri dan kualitas kekuatan" -mamah Dedeh 

Saturday, December 31

Hey, look at (Your)self !


Tinggal beberapa jam lagi menuju tahun 2017. Tentunya akan ada resolusi-resolusi baru yang ingin dicapai. Walaupun resolusi tahun 2016 masih ada yang belum tercapai.

"Kok aku kaya gini-gini aja ya?". 

Itu pemikiran saya beberapa bulan lalu. Lalu, teman saya membalas "Aku gak ah, justru lebih banyak belajar, traveling dan sebagainya". Bahkan dia "meng-hadiahi" dirinya dengan kacamata baru dikarenakan matanya yang minus (you know who you are :p)

Saya terdiam.

Sempat sedikit merasa iri (tadinya).

Sampai beberapa bulan ke depan, saya melihat post seseorang di Instagram Story. Quote bertuliskan "What's the most important thing  you've done this year? Survived"

Lalu, langsung buru-buru saya capture quote tersebut. Dibuat mikir. "Iya juga yha, hahaha" gumam saya dalam hati. Saya terlalu sibuk melihat perubahan orang lain tapi nggak peka dengan perubahan saya sendiri. Mungkin memang gak terlihat secara langsung alias harus dipikir "melihat" kebelakang.

Survived. Ya. Saya survived.

Satu kata tapi banyak makna.

Ternyata, perubahan yang ada dalam diri saya adalah mampu bertahan dengan keadaan yang ada. Mungkin sepele sih. Tapi, mungkin bagi kalian survived disini layaknya orang hidup yang mampu bertahan dalam kehidupan. Tapi, saya memaknainya bukan seperti itu. Namun, lebih ke "pembawaan diri" saya. 

Saya survived dengan keadaan yang cukup lama menjadi pengangguran. Kalau ibu hamil, udah brojol lah ini.

Saya survived untuk tidak merasa iri ketika teman-teman saya berlibur ke luar kota dengan penghasilan masing-masing sedangkan saya masih menjadi jobseeker.

Saya survived dengan kondisi keuangan dan bisnis yang ada.

Saya survived untuk berusaha tidak mengeluh seburuk apapun keadaan yang ada.

Saya survived dengan memakai hijab ini walaupun banyak sekali godaan untuk melepasnya hahaha tapi saya selalu inget alasan dan tujuan saya di artikel It's an obligation.

Saya survived untuk selalu ber-positive thinking dengan segala tekanan dan keadaan buruk.

Saya survived untuk tidak terlalu addict dengan media social. FYI, I just deactivated my Instagram.

Yaa, itu yang saya telat sadari kalau saya pun "ga gitu-gitu aja". Saya pun juga berubah. Sebelum membanggakan orang lain, ada baiknya kita melihat diri kita sendiri dulu. Kalau bukan kita yang meng-apresiasi diri kita, siapa lagi coba?

Bukan condong ke arah sombong. Tetapi untuk lebih banyak bersyukur :)



Happy New Year 2017!
Xx,

sonia

Saturday, September 10

(Lack of) Gratitude

Hari Kamis pagi tanggal 9 September 2016, saya menuju RSU kota Tangerang Selatan untuk mengurus segala berkas administrasi yang diperlukan untuk melamar kerja di sebuah instansi. Administrasi yang diperlukan dari RS ini diantaranya ialah Surat Keterangan Sehat Jasmani dan Rohani, Surat bebas Narkoba dan Surat bebas Buta Warna. Pagi itu saya sampai pukul 07.05 , terlihat di depan RS sudah terjadi antrian yang panjang. Para pengunjung yang mengantri untuk mendapatkan nomor pendaftaran. 

Singkat cerita, setelah saya mendapatkan nomor pendaftaran, saya pun duduk di ruang tunggu untuk selanjutnya dipanggil oleh pegawai loket. Selama menunggu di ruang tunggu tersebut saya melihat sekeliling ruangan. Orang-orang dari tua-muda menunggu panggilan juga. Saya terusik dengan obrolan ibu-ibu di depan saya "Iya ini dari jam 3 pagi disini, kalau ga jam segitu, ga bakal dapat antrian". Ibu tersebut ingin menuju poli penyakit dalam yang memang di batasi kuota nya. Secara tidak sadar, saya bergumam dalam hati "ya Allah.. sampai segitunya banyak orang yang bela-belain kesini berobat dari jam 3 pagi". 

Setelah saya dipanggil oleh pegawai loket dan melakukan pembayaran, saya pun langsung bergegas ke lantai 4 dimana poli MCU (Medical Check-Up) berada. Poli MCU ini digunakan untuk mendapatkan surat Keterangan Sehat Jasmani dan bebas buta warna. Di poli MCU ini saya bertemu dengan asisten dokter MCU. Yang menarik perhatian saya adalah ia seorang laki-laki yang sangat murah senyum tetapi cara berjalannya tidak sempurna. Namun beliau tetap terlihat senang.

Di poli MCU ini saya di cek tensi terlebih dahulu oleh beliau karena dokternya belum datang. Katanya baru datang jam 09.00 . Saya pun disarankan oleh beliau untuk melakukan tes lab bebas narkoba terlebih dahulu di lantai 5 (poli Napza) atau boleh makan dulu lalu kembali lagi ke poli MCU. 

Selanjutnya saya menuju lantai 5, menyerahkan formulir pembayaran kemudian duduk di ruang tunggu menunggu dipanggil. Setelah dipanggil saya pun disuruh "buang air kecil" di pot yang sudah disediakan. Setelah itu, saya kira ada tes darah (padahal hanya tes urine), jadi saya menunggu di ruang tunggu. Selama duduk diruang tunggu tersebut saya mendengar obrolan laki-laki paruh baya dengan perempuan dewasa yang berkeluh kesah atas pelayanan RS yang dirasakan. 

Tiba-tiba seorang ibu disebelah saya mengajak saya ngobrol dengan membahas pelayanan rumah sakit. Ngalor ngidul pembicaraan, saya bertanya pada beliau "ibu mau kemana?"
beliau menjawab "saya nungguin anak saya abis operasi"
"operasi apa bu?" 
"pengangkatan kista, lagi pemulihan sih".

Singkat cerita anak beliau sudah berumur 40 tahun tetapi belum menikah, kistanya setiap hari semakin membesar, saat operasi pengangkatannya, kistanya hancur. Jadi ukurannya sangat besar.
Bergumam dalam hati saya "ya Allah.. terimakasih atas nikmat sehat yang diberikan"

Dari ibu ini saya dapat pengetahuan baru, kalau setiap orang pasti punya kista. Yang saya tangkap, bagaimana kita menjaga pola makan yang sehat agar kista tersebut tidak membesar.

Setelah menunggu cukup lama di poli Napza, saya memutuskan untuk bertanya kepada petugas poli, apa ada tes lainnya ? Mereka bilang tidak ada, hasil bisa diambil besok harinya. (Tau gituuuu yahhh.. langsung ke lantai 4 atau makan dulu! hehehe )

Saya pun langsung turun lantai menuju poli MCU, menunggu sebentar di depan poli Jiwa. Beberapa menit kemudian saya dipanggil oleh asisten dokter poli MCU, dokter bertanya tentang berbagai hal menyangkut kesehatan saya apa pernah di rawat inap dsb dsb.. Setelah selesai, dokter tersebut bertanya ke saya "Kamu cuma butuh surat sakit jasmani aja? rohani engga ?" 
Saya bilang, "iya dok, jasmani aja, emang biasanya gimana dok?" 
"Yah, gatau kan itu kamu yang tau butuhnya apa saja" 

Hmm, saya yang tadinya yakin hanya tes sehat jasmani saja menjadi ragu ditanya seperti itu. Saya mikir apa rohani juga ya? Yang saya ingat sih cuma jasmani aja ga ada rohani. Mau buka website instansi  yang membuka lowongan tersebut tapi saya lagi ga ada paket data. Hmm, jadi saya yakinkan aja hanya tes jasmani. Dokter tersebut bilang kalau pakai tes rohani itu berbeda poli soalnya. Ya, poli Jiwa yang harus kita tuju.

Dengan "kelupaan" saya bahwa tidak diperlukannya tes rohani tersebut, akhirnya saya keluar RS dan berangkat menuju kampus (tadinya) untuk meminta berkas administrasi lainnya. Sebelum saya keluar dari RS itu, saya sempat membeli pulsa terlebih dahulu. Di perjalanan di dalam angkot akhirnya saya membuka website yang dimaksud. Ternyata dibutuhkan tes rohani. Alamakkk! untung belum begitu jauh. Saya langsung turun dari angkot dan naik kembali angkot yang menuju ke RS. 

Saya mendaftar ulang, kali ini untuk tes rohani di poli Jiwa. Setelah membayar pendaftaran, saya memberikan formulir pembayaran kepada asisten dokter di poli Jiwa. Asisten tersebut memberikan saya note harus melakukan pembayaran lagi sebesar Rp 250.000.

Dalam hati saya bilang "Duh, uangnya gacukup lagi!" Akhirnya saya mencoba menghubungi ibu saya untuk minta tolong transfer uang sejumlah tersebut. Karena di RS ini jam kerja poli nya hanya sampai jam 11.00. Saya mulai panik, mepet banget waktunya. Setelah ibu saya transfer saya langsung melakukan pembayaran lagi dan kemudian langsung menuju ke poli Jiwa.

Saya sebenarnya agak aneh mendengar adanya poli Jiwa. Apa yang dilakukan dokter di dalam ruangan, kenapa bisa ada begitu banyak pasien di ruang tunggu yang kelihatannya normal-normal saja, yang maksud saya, poli Jiwa ini mungkin harusnya ada di bagian rumah sakit Jiwa. Tapi, saya mulai mengetahui setelah saya berada di dalam ruangan seperti apa fungsi dari poli ini.

Memasuki ruangan poli Jiwa, saya bertemu dengan dokter nya, singkat obrolan dia bertanya nama saya siapa, suratnya diperlukan untuk apa dan saya di berikan selembar kertas yang berisi 8 kotak gambar yang harus diteruskan (seperti tes gambar). Sembari saya mengerjakan gambar tersebut, dokter menerima pasiennya. Pasien pertama seorang pria kira-kira umurnya berkisar antara 35-40 tahun. Dokter bertanya bagaimana kabarnya dan menyarankan pasiennya untuk melakukan suntik. Dalam hati saya bilang " hahh, suntik apaan? kenapa ini orang?" Kemudian, dokter tersebut seperti memulai perbincangan pada pasien pertama yang intinya menanyakan sering stress atau tidak. Pasien tersebut bercerita kalau ia mempunyai bisnis takoyaki yang bukanya pada sore hari dan suka bermasalah dengan pedagang lain sehingga menyebabkan ia stress. Dokter selalu menenangkan dengan memberi motivasi, saran dsb. 

Saya masih sibuk dengan selembar kertas kotak gambar. Pasien kedua masuk ruangan. Kali ini pria muda dengan umur sekitar 20 tahun an. Secara fisik ia terlihat sehat bahkan sangat ceria. Dokter menanyakan bagaimana kabarnya. Beberapa menit kemudian dokter menanyakan luka yang terdapat pada tangan pasien kedua tersebut. Dokter bertanya apakah pasien tersebut memakai lagi.

Awalnya saya belum begitu "ngeh" apa yang dimaksud oleh dokter. Tetapi mengikuti alur perbincangan mereka saya mulai paham. Pria muda ini berusaha ingin sembuh. Lalu pembicaraan semakin jauh seperti mereka sama-sama mengetahui siapa-siapa saja yang bersangkutan dalam menjerumuskan si pasien, bagaimana pasien bisa mendapatkan barang dsb dsb.

Pasien kedua ini sampai-sampai berkata kalau Alhamdulillah orangtuanya masih sanggup untuk membiayai nya sampai ia "sembuh". Kurang lebih begitu.

Beberapa saat kemudian, pasien ketiga pun masuk. Kali ini entah sepasang suami isteri atau ibu anak. Yang kelihatan sakit adalah laki-lakinya. Wajahnya pucat pasi. Saya tidak tahu pasti ia kenapa karena tidak lama kemudian saya telah selesai mengerjakan tes gambar saya dan menunggu beberapa menit sampai surat yang saya perlukan jadi.

Setelah kelar semua urusan, saya pun keluar dari ruangan dan menuju lift untuk turun ke bawah. Sesuatu yang sebelumnya hanya saya lihat di sinetron atau film, kali ini saya melihat dengan mata kepala sendiri. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Seseorang baru saja meninggal dunia. Sudah terbaring dengan kain menutupi seluruh dirinya. Dengan keluarga disebelahnya menangis penuh haru. Sedang menunggu di depan lift.

Merinding.

Ntah kenapa saya lebih merinding melihat orang yang baru meninggal ditutupi kain dibanding seseorang yang sudah dikafani. Saat itu juga saya langsung teringat orang rumah ataupun diri saya sendiri. Bagaimana kalau saya ditinggalkan oleh ibu bapak saya? Atau bagaimana kalau saya  yang meninggal ? 

Secara tidak langsung saya teringat kembali kalau dunia ini memang hanya sementara. Kalau sudah meninggal dunia ya sudahh. Tidak bisa kita melakukan dan merasakan apa-apa lagi. 

Dari hari di RS itu saya belajar untuk banyak-banyak bersyukur. Dimulai dari nikmat sehat, keluarga yang masih utuh, teman-teman yang baik, masih bisa jalan-jalan, apapun itu yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.. (yang sebenarnya saya masih sulit untuk menerapkan rasa syukur itu sendiri). Berpikir juga bahwa masalah yang kita punya tidaklah seberapa dibandingkan masalah orang lain. Sadari sajalah kalau rezeki yang kita dapetin bukan hanya berbentuk materi semata. 


"Berbaring. Lalu berpikir berapa banyak doa (permintaan) yang sudah dijawab-Nya"


Xx,
sonia