Thursday, March 23

23/3


"Your Lord did not abandon you,
nor did he forget"

(93:3)


Tuesday, March 21

Daily Story #1 Failed


Siapa sih yang mau gagal terus-terusan? Udah usaha semampunya tapi hasil yang di dapat tetap aja kegagalan. Kecewa? Jelas! Tapi, kalau dibiarkan terus tanpa usaha lagi maka gak akan ngerubah apapun.

Jalan hidup orang udah pasti berbeda-beda. Rezeki yang di dapat pun juga. Harusnya kita sadar no complaint for this case. Kadang atau bahkan sering kita mencoba cara yang sama dengan orang lain untuk mendapatkan hal yang sama-sama menjadi impian tapi hasil akhirnya sangat berbeda jauh. Ia berhasil hanya dengan satu-kali mencoba sedangkan kita gagal. Hal yang biasa sebenarnya.

Sabtu pagi itu saya baru pulang ke rumah, lalu bapak saya bertanya pada saya, "Kapan tes online B**S (salah satu instansi BUMN di Indonesia) ?"

Saya menjawab, "Selasa besok tanggal 21 jam 8 pagi"

Lalu bapak saya bilang, "Libur kan tanggal segitu, banyak yang bantuin nanti"

Saya pun bertanya, "Kenapa sih apa-apa mesti dibantuin?"

"Ya biar lolos, kamu kan udah sering tes psikotes tapi gagal terus", jawabnya.

Honestly. These word is so sadly for me. Mood, down seketika. Ganafsu makan dan-sebagainya hanya karena apa yang bapak saya bilang. Sampai saya menulis ini pun masih menangis. Merasa kalau apa yang saya usahakan sia-sia. Merasa kalau orangtua saya sendiri seakan tidak percaya dengan kemampuan anaknya. Tes sana sini. Gagal. Dan begitu seterusnya.

"Nanti tuh ada confirmary test (test ulang). Jadi, gausah lah dibantuin" kata saya.

"Ya jangan begitu, jangan selalu bilang rejeki-rejeki"

Nampaknya bapak saya ingat kalau saya selalu bilang, "Kalau rezeki ga-akan-kemana, kalo bukan rezeki kita mau usaha gimana juga ga-akan jadi milik kita atau bukan jalannya disana atau belum waktunya" Saya percaya banget hal itu.

Dan saya bukannya gamau dibantu, bukannya idealis. Tapi, waktu tes di tahun 2016 pun saya gak lolos dibantu adik saya. Jadi bisa ditarik kesimpulan? Yang saya pikirkan saat ini, tes-tes seperti ini memang tujuannya mengetahui kemampuan kita. Jadi alangkah baiknya mengerjakan dengan percaya pada diri sendiri dan tenang. Lagipula, kalau berhasil dengan hasil usaha sendiri rasanya jauh lebih menyenangkan! 

Mungkin saya gak seberuntung orang lain yang dengan mudahnya lolos dengan mencoba di waktu pertama kali. At least, i tried.. Dari kegagalan itu saya tau hal apa saja yang harus saya perbaiki. Dari kegagalan itu saya jadi tau pola-pola soal tes. Ya ga mudah memang.. tapi sekali lagi i tried, dengan percaya pada diri sendiri tanpa bantuan orang  lain.

Mungkin, bapak saya cemas dan menginginkan yang terbaik. Dan merasa saya ga maksimal dalam mengerjakan tes. Tapi kan yang menjalani saya?

Saya percaya kalau saya gagal atau tidak mendapatkan sesuatu yang saya inginkan, berarti itu bukan yang terbaik bagi saya. Doa orangtua memang mustajab. Tapi saya juga mempunyai doa saya sendiri yakni meminta yang terbaik dalam hal apapun.

Bagi saya, yang dibutuhkan bagi orang yang selalu mengalami kegagalan hanyalah support. Sepele sih hanya itu. Tapi pernah ga sih ngalamin kalau kita lagi down banget ada aja yang ngasih kita support dan membuat kita jadi semangat lagi mengejar impian kita? It's beautiful and powerful to hear than anything.

Pilih-lah kata-kata yang baik yang terkesan tidak membandingkan atau menyepelekan. 

Inna shafa wal marwatha,

Siti Hajar saja harus bolak-balik dengan total 7 kali bukit shafa-marwa untuk mendapatkan air untuk nabi Ismail yang kehausan. Tapi pada akhirnya air tersebut malah muncul di kaki nabi Ismail dan mengalir sampai sekarang yang kita kenal sebagai air zam-zam. 

Yang terpenting memang usaha. Seterusnya biar Allah-lah yang mengatur semuanya. Sesungguhnya hanya Dia yang berhak menghendaki apa pun.

"Kegagalan sebagai ujian kesabaran, kegagalan melihat kelemahan diri dan kualitas kekuatan" -mamah Dedeh 

Saturday, December 31

Hey, look at (Your)self !


Tinggal beberapa jam lagi menuju tahun 2017. Tentunya akan ada resolusi-resolusi baru yang ingin dicapai. Walaupun resolusi tahun 2016 masih ada yang belum tercapai.

"Kok aku kaya gini-gini aja ya?". 

Itu pemikiran saya beberapa bulan lalu. Lalu, teman saya membalas "Aku gak ah, justru lebih banyak belajar, traveling dan sebagainya". Bahkan dia "meng-hadiahi" dirinya dengan kacamata baru dikarenakan matanya yang minus (you know who you are :p)

Saya terdiam.

Sempat sedikit merasa iri (tadinya).

Sampai beberapa bulan ke depan, saya melihat post seseorang di Instagram Story. Quote bertuliskan "What's the most important thing  you've done this year? Survived"

Lalu, langsung buru-buru saya capture quote tersebut. Dibuat mikir. "Iya juga yha, hahaha" gumam saya dalam hati. Saya terlalu sibuk melihat perubahan orang lain tapi nggak peka dengan perubahan saya sendiri. Mungkin memang gak terlihat secara langsung alias harus dipikir "melihat" kebelakang.

Survived. Ya. Saya survived.

Satu kata tapi banyak makna.

Ternyata, perubahan yang ada dalam diri saya adalah mampu bertahan dengan keadaan yang ada. Mungkin sepele sih. Tapi, mungkin bagi kalian survived disini layaknya orang hidup yang mampu bertahan dalam kehidupan. Tapi, saya memaknainya bukan seperti itu. Namun, lebih ke "pembawaan diri" saya. 

Saya survived dengan keadaan yang cukup lama menjadi pengangguran. Kalau ibu hamil, udah brojol lah ini.

Saya survived untuk tidak merasa iri ketika teman-teman saya berlibur ke luar kota dengan penghasilan masing-masing sedangkan saya masih menjadi jobseeker.

Saya survived dengan kondisi keuangan dan bisnis yang ada.

Saya survived untuk berusaha tidak mengeluh seburuk apapun keadaan yang ada.

Saya survived dengan memakai hijab ini walaupun banyak sekali godaan untuk melepasnya hahaha tapi saya selalu inget alasan dan tujuan saya di artikel It's an obligation.

Saya survived untuk selalu ber-positive thinking dengan segala tekanan dan keadaan buruk.

Saya survived untuk tidak terlalu addict dengan media social. FYI, I just deactivated my Instagram.

Yaa, itu yang saya telat sadari kalau saya pun "ga gitu-gitu aja". Saya pun juga berubah. Sebelum membanggakan orang lain, ada baiknya kita melihat diri kita sendiri dulu. Kalau bukan kita yang meng-apresiasi diri kita, siapa lagi coba?

Bukan condong ke arah sombong. Tetapi untuk lebih banyak bersyukur :)



Happy New Year 2017!
Xx,

sonia

Saturday, September 10

(Lack of) Gratitude

Hari Kamis pagi tanggal 9 September 2016, saya menuju RSU kota Tangerang Selatan untuk mengurus segala berkas administrasi yang diperlukan untuk melamar kerja di sebuah instansi. Administrasi yang diperlukan dari RS ini diantaranya ialah Surat Keterangan Sehat Jasmani dan Rohani, Surat bebas Narkoba dan Surat bebas Buta Warna. Pagi itu saya sampai pukul 07.05 , terlihat di depan RS sudah terjadi antrian yang panjang. Para pengunjung yang mengantri untuk mendapatkan nomor pendaftaran. 

Singkat cerita, setelah saya mendapatkan nomor pendaftaran, saya pun duduk di ruang tunggu untuk selanjutnya dipanggil oleh pegawai loket. Selama menunggu di ruang tunggu tersebut saya melihat sekeliling ruangan. Orang-orang dari tua-muda menunggu panggilan juga. Saya terusik dengan obrolan ibu-ibu di depan saya "Iya ini dari jam 3 pagi disini, kalau ga jam segitu, ga bakal dapat antrian". Ibu tersebut ingin menuju poli penyakit dalam yang memang di batasi kuota nya. Secara tidak sadar, saya bergumam dalam hati "ya Allah.. sampai segitunya banyak orang yang bela-belain kesini berobat dari jam 3 pagi". 

Setelah saya dipanggil oleh pegawai loket dan melakukan pembayaran, saya pun langsung bergegas ke lantai 4 dimana poli MCU (Medical Check-Up) berada. Poli MCU ini digunakan untuk mendapatkan surat Keterangan Sehat Jasmani dan bebas buta warna. Di poli MCU ini saya bertemu dengan asisten dokter MCU. Yang menarik perhatian saya adalah ia seorang laki-laki yang sangat murah senyum tetapi cara berjalannya tidak sempurna. Namun beliau tetap terlihat senang.

Di poli MCU ini saya di cek tensi terlebih dahulu oleh beliau karena dokternya belum datang. Katanya baru datang jam 09.00 . Saya pun disarankan oleh beliau untuk melakukan tes lab bebas narkoba terlebih dahulu di lantai 5 (poli Napza) atau boleh makan dulu lalu kembali lagi ke poli MCU. 

Selanjutnya saya menuju lantai 5, menyerahkan formulir pembayaran kemudian duduk di ruang tunggu menunggu dipanggil. Setelah dipanggil saya pun disuruh "buang air kecil" di pot yang sudah disediakan. Setelah itu, saya kira ada tes darah (padahal hanya tes urine), jadi saya menunggu di ruang tunggu. Selama duduk diruang tunggu tersebut saya mendengar obrolan laki-laki paruh baya dengan perempuan dewasa yang berkeluh kesah atas pelayanan RS yang dirasakan. 

Tiba-tiba seorang ibu disebelah saya mengajak saya ngobrol dengan membahas pelayanan rumah sakit. Ngalor ngidul pembicaraan, saya bertanya pada beliau "ibu mau kemana?"
beliau menjawab "saya nungguin anak saya abis operasi"
"operasi apa bu?" 
"pengangkatan kista, lagi pemulihan sih".

Singkat cerita anak beliau sudah berumur 40 tahun tetapi belum menikah, kistanya setiap hari semakin membesar, saat operasi pengangkatannya, kistanya hancur. Jadi ukurannya sangat besar.
Bergumam dalam hati saya "ya Allah.. terimakasih atas nikmat sehat yang diberikan"

Dari ibu ini saya dapat pengetahuan baru, kalau setiap orang pasti punya kista. Yang saya tangkap, bagaimana kita menjaga pola makan yang sehat agar kista tersebut tidak membesar.

Setelah menunggu cukup lama di poli Napza, saya memutuskan untuk bertanya kepada petugas poli, apa ada tes lainnya ? Mereka bilang tidak ada, hasil bisa diambil besok harinya. (Tau gituuuu yahhh.. langsung ke lantai 4 atau makan dulu! hehehe )

Saya pun langsung turun lantai menuju poli MCU, menunggu sebentar di depan poli Jiwa. Beberapa menit kemudian saya dipanggil oleh asisten dokter poli MCU, dokter bertanya tentang berbagai hal menyangkut kesehatan saya apa pernah di rawat inap dsb dsb.. Setelah selesai, dokter tersebut bertanya ke saya "Kamu cuma butuh surat sakit jasmani aja? rohani engga ?" 
Saya bilang, "iya dok, jasmani aja, emang biasanya gimana dok?" 
"Yah, gatau kan itu kamu yang tau butuhnya apa saja" 

Hmm, saya yang tadinya yakin hanya tes sehat jasmani saja menjadi ragu ditanya seperti itu. Saya mikir apa rohani juga ya? Yang saya ingat sih cuma jasmani aja ga ada rohani. Mau buka website instansi  yang membuka lowongan tersebut tapi saya lagi ga ada paket data. Hmm, jadi saya yakinkan aja hanya tes jasmani. Dokter tersebut bilang kalau pakai tes rohani itu berbeda poli soalnya. Ya, poli Jiwa yang harus kita tuju.

Dengan "kelupaan" saya bahwa tidak diperlukannya tes rohani tersebut, akhirnya saya keluar RS dan berangkat menuju kampus (tadinya) untuk meminta berkas administrasi lainnya. Sebelum saya keluar dari RS itu, saya sempat membeli pulsa terlebih dahulu. Di perjalanan di dalam angkot akhirnya saya membuka website yang dimaksud. Ternyata dibutuhkan tes rohani. Alamakkk! untung belum begitu jauh. Saya langsung turun dari angkot dan naik kembali angkot yang menuju ke RS. 

Saya mendaftar ulang, kali ini untuk tes rohani di poli Jiwa. Setelah membayar pendaftaran, saya memberikan formulir pembayaran kepada asisten dokter di poli Jiwa. Asisten tersebut memberikan saya note harus melakukan pembayaran lagi sebesar Rp 250.000.

Dalam hati saya bilang "Duh, uangnya gacukup lagi!" Akhirnya saya mencoba menghubungi ibu saya untuk minta tolong transfer uang sejumlah tersebut. Karena di RS ini jam kerja poli nya hanya sampai jam 11.00. Saya mulai panik, mepet banget waktunya. Setelah ibu saya transfer saya langsung melakukan pembayaran lagi dan kemudian langsung menuju ke poli Jiwa.

Saya sebenarnya agak aneh mendengar adanya poli Jiwa. Apa yang dilakukan dokter di dalam ruangan, kenapa bisa ada begitu banyak pasien di ruang tunggu yang kelihatannya normal-normal saja, yang maksud saya, poli Jiwa ini mungkin harusnya ada di bagian rumah sakit Jiwa. Tapi, saya mulai mengetahui setelah saya berada di dalam ruangan seperti apa fungsi dari poli ini.

Memasuki ruangan poli Jiwa, saya bertemu dengan dokter nya, singkat obrolan dia bertanya nama saya siapa, suratnya diperlukan untuk apa dan saya di berikan selembar kertas yang berisi 8 kotak gambar yang harus diteruskan (seperti tes gambar). Sembari saya mengerjakan gambar tersebut, dokter menerima pasiennya. Pasien pertama seorang pria kira-kira umurnya berkisar antara 35-40 tahun. Dokter bertanya bagaimana kabarnya dan menyarankan pasiennya untuk melakukan suntik. Dalam hati saya bilang " hahh, suntik apaan? kenapa ini orang?" Kemudian, dokter tersebut seperti memulai perbincangan pada pasien pertama yang intinya menanyakan sering stress atau tidak. Pasien tersebut bercerita kalau ia mempunyai bisnis takoyaki yang bukanya pada sore hari dan suka bermasalah dengan pedagang lain sehingga menyebabkan ia stress. Dokter selalu menenangkan dengan memberi motivasi, saran dsb. 

Saya masih sibuk dengan selembar kertas kotak gambar. Pasien kedua masuk ruangan. Kali ini pria muda dengan umur sekitar 20 tahun an. Secara fisik ia terlihat sehat bahkan sangat ceria. Dokter menanyakan bagaimana kabarnya. Beberapa menit kemudian dokter menanyakan luka yang terdapat pada tangan pasien kedua tersebut. Dokter bertanya apakah pasien tersebut memakai lagi.

Awalnya saya belum begitu "ngeh" apa yang dimaksud oleh dokter. Tetapi mengikuti alur perbincangan mereka saya mulai paham. Pria muda ini berusaha ingin sembuh. Lalu pembicaraan semakin jauh seperti mereka sama-sama mengetahui siapa-siapa saja yang bersangkutan dalam menjerumuskan si pasien, bagaimana pasien bisa mendapatkan barang dsb dsb.

Pasien kedua ini sampai-sampai berkata kalau Alhamdulillah orangtuanya masih sanggup untuk membiayai nya sampai ia "sembuh". Kurang lebih begitu.

Beberapa saat kemudian, pasien ketiga pun masuk. Kali ini entah sepasang suami isteri atau ibu anak. Yang kelihatan sakit adalah laki-lakinya. Wajahnya pucat pasi. Saya tidak tahu pasti ia kenapa karena tidak lama kemudian saya telah selesai mengerjakan tes gambar saya dan menunggu beberapa menit sampai surat yang saya perlukan jadi.

Setelah kelar semua urusan, saya pun keluar dari ruangan dan menuju lift untuk turun ke bawah. Sesuatu yang sebelumnya hanya saya lihat di sinetron atau film, kali ini saya melihat dengan mata kepala sendiri. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Seseorang baru saja meninggal dunia. Sudah terbaring dengan kain menutupi seluruh dirinya. Dengan keluarga disebelahnya menangis penuh haru. Sedang menunggu di depan lift.

Merinding.

Ntah kenapa saya lebih merinding melihat orang yang baru meninggal ditutupi kain dibanding seseorang yang sudah dikafani. Saat itu juga saya langsung teringat orang rumah ataupun diri saya sendiri. Bagaimana kalau saya ditinggalkan oleh ibu bapak saya? Atau bagaimana kalau saya  yang meninggal ? 

Secara tidak langsung saya teringat kembali kalau dunia ini memang hanya sementara. Kalau sudah meninggal dunia ya sudahh. Tidak bisa kita melakukan dan merasakan apa-apa lagi. 

Dari hari di RS itu saya belajar untuk banyak-banyak bersyukur. Dimulai dari nikmat sehat, keluarga yang masih utuh, teman-teman yang baik, masih bisa jalan-jalan, apapun itu yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.. (yang sebenarnya saya masih sulit untuk menerapkan rasa syukur itu sendiri). Berpikir juga bahwa masalah yang kita punya tidaklah seberapa dibandingkan masalah orang lain. Sadari sajalah kalau rezeki yang kita dapetin bukan hanya berbentuk materi semata. 


"Berbaring. Lalu berpikir berapa banyak doa (permintaan) yang sudah dijawab-Nya"


Xx,
sonia

Tuesday, August 23

A Fascinating Mawun Beach, Lombok

Waaah! 

Itu kata pertama yang saya ucapkan dalam hati ketika sampai di pantai Mawun. Pantai cantik yang diapit oleh dua bukit yang sedang menghijau, mengingatan saya terhadap bukit teletubbies! Perpaduan warna alam yang sangat serasi. Pantai Mawun berlokasi di di Desa Tumpak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.





Kalau kalian berkunjung ke pantai kan identiknya dengan panas teriknya matahari, tetapi tidak dengan pantai Mawun. Karena di pantai ini terdapat pohon yang rindang sehingga pengunjung  dapat merasa teduh. Tentunya juga bukit yang menghijau yang dipengaruhi oleh curah hujan. Apabila musim kemarau, bukit tersebut juga mengering sehingga menyebabkan warnanya kecoklatan.





Perjalanan menuju pantai Mawun ini kami tempuh dengan sepeda motor melalui jalan yang berlika-liku dengan kondisi jalan aspal yang baik (karena pemerintah sedang giat-giatnya memperbaiki akses jalan demi keberlangsungan pariwisata Lombok). Dalam perjalanan tersebut kami disuguhkan pemandangan yang layaaaaak sekali untuk dipandang. Tidak menyesal untuk bisa sampai di pantai ini. Worth to visited!


Xx,
sonia

Wednesday, August 3

Learn from Kroya Waterfall

Air terjun Kroya terletak di Bali Utara, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Singaraja. Air terjun ini masih satu kompleks dengan beberapa air terjun lainnya, diantaranya adalah air terjun Aling-aling, Kembar, Pucuk, Cemara, Canging, Dedari. Tetapi kebanyakan orang-orang luar Bali hanya mengetahui air terjun Aling-aling dan Kroya. 

Hari itu kami berangkat agak siang dengan sepeda motor. Dari arah pantai Lovina letaknya tidak terlalu jauh, sampai ke lokasi ini tidak hampir satu jam. Agak bingung untuk sampai di lokasi ini, pasalnya waktu itu petunjuk jalannya belum ada dan warga sekitar pun ada yang tidak mengetahui lokasi ini. Kami hanya mengandalkan GPS dan bertanya pada orang-orang yang kami ketemui saja. Setelah beberapa menit perjalanan kami pun sampai. Ada beberapa akses jalan sebenarnya untuk bisa sampai di lokasi ini. Lokasi yang kami sampai pada saat itu yaitu dengan adanya keberadaan posko. 

Kami bertanya kepada orang yang ada di posko tersebut kemana arah untuk mencapai lokasi. Tetapi kami malah diharuskan berhenti terlebih dahulu dan membayar. Saya kira murah, toh pikiran saya hanya untuk melihat-lihat air terjun dan berenang. Tapi mereka malah menawarkan beberapa paket tour guide. Kami pun rada kesel waktu itu, kenapa malah jadi pake guide, orang cuma mau lihat-lihat aja kok. Bayar Rp 70.000/orang pula. Mereka bilang wajib banget pakai guide. Setelah mengobrol cukup lama akhirnya kami memutuskan untuk membayar. Ternyata.... (baca sampai habis.)

Setelah sampai di tempat parkir motor, kami pun berjalan beberapa meter atau kilo yah untuk sampai di air terjun Aling-aling (iya niatnya emang mau ke Aling-aling. Karena ini yang terkenal). Melewati jalan bebatuan dan anak tangga akhirnya kami sampai di air terjun Aling-aling. Pas sampai sini, jujur saya berpikir "apaan nih cuman gini doang air terjunnya?" Ga bisa buat berenang karena katanya dalam banget kolamnya. Kami cuma mengambil beberapa foto aja disini. Waktu itu awalnya udah rada ga mood karena harus menambah pengeluaran sebesar Rp 70.000. 



Air terjun Aling-aling


Tapi setelah itu, om Bob (guide kami) mengajak kami untuk menelusuri air terjun lain. Hahh baru tau! Next adalah kita sampai di air terjun Kroya. Hanya jalan beberapa menit kamipun sampai di air terjun Kroya. 

Fabia bersama om Bob (tour guide kami) di air terjun Aling-aling
Unik! Karena disini kita dapat melakukan kegiatan "slide". Iya. Meluncur di air terjun kaya main perosotan. Nah disini saya mulai paham kenapa kita harus memakai guide. Karena nampaknya kurang aman kalo kita tidak dipandu oleh guide yang sudah paham seluk beluk tempat ini. Waktu terbaik untuk mengunjungi tempat ini tentunya adalah bukan musim hujan. Karena debit air saat musim hujan sangat deras dan bisa-bisa membahayakan apabila kita melakukan kegiatan ini.

Beberapa saat kemudian kamipun berganti baju dan memakai life jacket yang sudah termasuk dalam paket tour. Saya melihat orang-orang yang "meluncur" nampak dalam berbagai perasaan. Dalam hati bilang "duh kayanya gamau nyoba aja deh!"

Jujur saya paling takut sama kedalaman di air karena gak bisa renang. Sampai giliran saya tiba, saya bilang sama om Bob, kalau saya gamau ikutan hahaha. Tapi disini om Bob meyakinkan saya dengan bilang "Ayo kamu pasti bisa, masa udah bayar segitu tapi kamu ga nyoba". 

Setelah beliau bilang begitu, saya pun berpikir ulang "Iya juga sih, kapan lagi kalau ga nyoba sekarang?"

Akhirnya saya memberanikan diri. Berjalan menuju tempat awal untuk meluncur..

Aduhh, gangerti lagi deh perasaan campur aduk banget! Arus airnya ga begitu deras tapi cukup bikin deg-degan! Kalo gasalah tinggi air terjun ini adalah 12m. Setelah diarahkan, saya pun meluncur.

1..2..3..

Hening.

Berasa jantung berhenti saat itu juga.

Hahahaha, agak lebay. Tapi itu yang saya rasain. Pas meluncur kaya tiba-tiba gak bisa napas, baca-baca doa dalam hati. Takut kenapa-kenapa..

Tidak sampai 30 detik tapi berasa lama banget. Tapi ternyata setelah berada di kolam, perasaan lega. Saya berenang secepat mungkin untuk sampai ke permukaan lagi karena entah kenapa saya selalu parno kalo di sungai atau airterjun gini pasti mikirnya selalu ada buaya hahaha padahal ga :")

Dari air terjun Kroya ini kami meluncur
Setelah meluncur, om Bob menyuruh kami untuk melakukan kegiatan lain. Yaitu jumping! Iya. Lompat dari atas ke kolam yang jaraknya kira-kira 5m atau berapa lupa. Setelah teman saya melakukannya terlebih dahulu, saya berniatan untuk tidak melakukan hal itu. Karena saya gapernah nyoba lompat-lompat kaya gini. Lagi-lagi om Bob memberikan petuahnya. Yang saya ingat dia bilang "Ayo dong, kamu pasti bisa.. Jangan takut. Itu cuma air.. Paling pantat doang yang sakit, abis itu ga. Jangan lihat ke airnya. Tapi ke arah depan (air terjun) biar ga takut terus lompat. Takut itu cuma di pikiran aja." 

Hm, okelah.. saya berpikir "Kapan lagi kalau ga sekarang?" Akhirnya saya melompat. Enak juga ternyata. Kalau sudah dibawah melihat ke atas tempat saya melompat ternyata jaraknya gak tinggi-tinggi amat. Kenapa saya takut banget ya.. Ada benarnya juga apa yang dibilang sama om Bob.

Darisini kami melompat 

Dari traveling saya belajar banyak bagaimana hidup. Dan pelajaran itu tidak lain dan tidak bukan salahsatu-nya datang dari seorang om Bob.


"You get educated by traveling"
-Solange Knowles

Xx,

sonia