Thursday, April 13

Seger Beach, Lombok Island

Pantai di Lombok identik dengan suasana perbukitan. Kali ini kami mampir ke daerah Lombok Tengah. Saya seneng banget ke daerah Lombok Tengah ini dikarenakan banyak sekali pantai di daerah ini. Dalam sehari kita bisa saja mengunjungi sedikitnya 2 atau bahkan 5 pantai sekaligus dalam sehari tergantung bagaimana mobilitas kita. Bagi saya yang penyuka pantai bukanlah suatu hal yang melelahkan. Saya malah kegirangan hahaha. 

Pantai pertama yang kami kunjungi di Lombok Tengah adalah pantai Seger. Sewaktu mendengar namanya saya berasa sedang kehausan lalu diberi sirup AB* orange (ngayal mulu anaknya).

Sebelum memasuki pantai Seger, kita sudah disuguhi pemandangan seperti ini






 
 


Area pantai ini cukup luas. Karena banyak perbukitan di sekitarnya jadi kita bisa naik ke bukit-bukit tersebut melihat pemandangan. Di area ini juga terdapat patung replika dari Putri Mandalika. Konon, Putri yang berasal dari daerah ini mempunyai paras yang sangat cantik yang menjadi primadona sehingga banyak pria yang mengejar-ngejarnya sehingga pada waktu itu ia memutuskan untuk menjatuhkan dirinya ke laut (ini cerita yang saya dengar dari bapak taxi yang mengantarkan kami yang juga merupakan warga lokal)

 


Kononnya lagiii, sang Putri kemudian menjelma menjadi cacing yang kini disebut Nyale. Cacing yang berwarna hijau-kuning itu dapat kita lihat setahun sekali. Bahkan ada upacara khusus untuk berburu Nyale ini yang disebut Bau Nyale.



Where:
Kuta, Pujut, Central Lombok Regency
West Nusa Tenggara 83573


sonia sabrina

Tuesday, April 4

Sade Village - A Unique Village from Lombok

Dari sewaktu masih kecil, saya penasaran banget sama desa ini. Alhamdulillah, ada rezekinya berkunjung ke desa ini. Desa Sade berlokasi di Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. 

Desa yang dihuni oleh suku Sasak ini masih mempertahankan kebiasaan turun-temurun. Yakni mengepel rumah mereka dengan kotoran kerbau. Iya, kalian gak salah baca kok. Beneran pakai kotoran kerbau. Yang bikin saya heran sewaktu memasuki rumah mereka, ga ada tercium bau kotoran sama sekali. Aneh tapi nyata memang! 

Si Ibu pemilik rumah bilang justru dengan mengepel/melapisi rumah mereka dengan kotoran kerbau ini membuat rumah menjadi kuat tahan dari retak-an. Entah itu saran darimana, tapi faktanya memang seperti itu. Disini kita juga bisa minta diajari menenun kain tradisional. Mereka dengan senang hati mau mengajari. Tapinya, tau diri juga sih jangan makan waktu terlalu lama hahahaha kalau begitu sih sekalian aja bayar kaya les private. 


Salahsatu mata pencaharian penduduk desa Sade jelas sekali pasti kerajinan. Mulai dari kain etnik yang dibandrol dari harga Rp 50.000 sampai jutaan rupiah. Kemudian, gelang, peci, gantungan kunci, baju suku Sasak sendiri dan sebagainya. Saya hampir kalap liat kain-kainnya! Abisnya, bagusss semua sih :)






Teras rumah di desa Sade, yang semuanya dilapisi oleh "kotoran" kerbau

Di dalam rumah desa Sade








sonia sabrina

Monday, April 3

Nusa Ceningan - A Beautiful Tiny Island

Pertama kali dengar nama Nusa Ceningan, saya mikir ada apasih disana? Pulau kecil yang terletak di selatan pulau Bali ini sekarang ga kalah hits sama induknya! 

Kita bisa sampai di Nusa Ceningan awalnya melalui Nusa Lembongan terlebih dahulu dengan memakai fast boat dari pantai Sanur, Bali dengan tiket seharga Rp 175.000 dan kurang lebih 30 menit kita sudah sampai di pantai Jungut Batu (Nusa Lembongan). 

Pantai Jungut Batu, Nusa Lembongan

Setelah sampai di Jungut Batu, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Di tempat makan itu, kami mengobrol dengan warga lokal yang ada untuk mencari informasi penyewaan motor dan penginapan.

Selesai makan siang, kami menuju penginapan yang diberitahu warga lokal yang ada di tempat makan (iya, dia membantu mencarikan penginapan yang masih kosong).

Untuk penginapan selama di sini, saya lebih merekomendasikan untuk menginap di Nusa Lembongan dibanding Nusa Ceningan. Karena relatif lebih ramai, banyak pilihan dengan harga yang beragam. 

Waktu itu kami pergi pada saat peak season. Yang dimana penginapan selalu full dan di mark-up harganya. Kami akhirnya mendapatkan penginapan dengan harga Rp 100.000/malam .Hahahaha tapiiiiii penginapan ini sesuai harga pastinya! We can't complain. Cuma penginapan ini yang kami dapat dan paling murah! Yak! Lucu sih kalo diingat-ingat. Pemilik penginapan ini adalah warga lokal yang sudah lumayan berumur, pendengarannya sudah "agak-agak". Jadi, ada saja tingkahnya yang bikin kami ga bisa menahan tawa. Tapi baik sih untungnya :))

Setelah istirahat sejenak, mengganti pakaian kami langsung meng-explore pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Ya.. kedua pulau ini letaknya bersebelahan yang hanya dihubungkan dengan jembatan kecil yang bernama "The Yellow Bridge".



Nusa Ceningan di depan mata

The Yellow Bridge yang menghubungkan Nusa Lembongan dengan Nusa Ceningan
Warga lokal menjadikan rumput laut sebagai salah satu mata pencaharian 

Anak-anak lokal Nusa Ceningan


Secret Point Huts, merupakan pintu masuk menuju Secret Point Beach

Secret Point Beach, Nusa Ceningan



Sunset 

Love at the first sight! Blue Lagoon! Cantik pake banget.

Pantai Jungut Batu, back to Sanur Beach

Menurut saya, cukup kok 2-3 hari untuk meng-explore kedua pulau ini.  Dan dengan hanya waktu yang singkat itu sudah cukup untuk membuat saya merasa fall in love at the first sight pada Nusa Ceningan. Terutama Blue Lagoon nya, cantik banget!


Xo,
sonia

Thursday, March 23

23/3


"Your Lord did not abandon you,
nor did he forget"

(93:3)


Tuesday, March 21

Daily Story #1 Failed


Siapa sih yang mau gagal terus-terusan? Udah usaha semampunya tapi hasil yang di dapat tetap aja kegagalan. Kecewa? Jelas! Tapi, kalau dibiarkan terus tanpa usaha lagi maka gak akan ngerubah apapun.

Jalan hidup orang udah pasti berbeda-beda. Rezeki yang di dapat pun juga. Harusnya kita sadar no complaint for this case. Kadang atau bahkan sering kita mencoba cara yang sama dengan orang lain untuk mendapatkan hal yang sama-sama menjadi impian tapi hasil akhirnya sangat berbeda jauh. Ia berhasil hanya dengan satu-kali mencoba sedangkan kita gagal. Hal yang biasa sebenarnya.

Sabtu pagi itu saya baru pulang ke rumah, lalu bapak saya bertanya pada saya, "Kapan tes online B**S (salah satu instansi BUMN di Indonesia) ?"

Saya menjawab, "Selasa besok tanggal 21 jam 8 pagi"

Lalu bapak saya bilang, "Libur kan tanggal segitu, banyak yang bantuin nanti"

Saya pun bertanya, "Kenapa sih apa-apa mesti dibantuin?"

"Ya biar lolos, kamu kan udah sering tes psikotes tapi gagal terus", jawabnya.

Honestly. These word is so sadly for me. Mood, down seketika. Ganafsu makan dan-sebagainya hanya karena apa yang bapak saya bilang. Sampai saya menulis ini pun masih menangis. Merasa kalau apa yang saya usahakan sia-sia. Merasa kalau orangtua saya sendiri seakan tidak percaya dengan kemampuan anaknya. Tes sana sini. Gagal. Dan begitu seterusnya.

"Nanti tuh ada confirmary test (test ulang). Jadi, gausah lah dibantuin" kata saya.

"Ya jangan begitu, jangan selalu bilang rejeki-rejeki"

Nampaknya bapak saya ingat kalau saya selalu bilang, "Kalau rezeki ga-akan-kemana, kalo bukan rezeki kita mau usaha gimana juga ga-akan jadi milik kita atau bukan jalannya disana atau belum waktunya" Saya percaya banget hal itu.

Dan saya bukannya gamau dibantu, bukannya idealis. Tapi, waktu tes di tahun 2016 pun saya gak lolos dibantu adik saya. Jadi bisa ditarik kesimpulan? Yang saya pikirkan saat ini, tes-tes seperti ini memang tujuannya mengetahui kemampuan kita. Jadi alangkah baiknya mengerjakan dengan percaya pada diri sendiri dan tenang. Lagipula, kalau berhasil dengan hasil usaha sendiri rasanya jauh lebih menyenangkan! 

Mungkin saya gak seberuntung orang lain yang dengan mudahnya lolos dengan mencoba di waktu pertama kali. At least, i tried.. Dari kegagalan itu saya tau hal apa saja yang harus saya perbaiki. Dari kegagalan itu saya jadi tau pola-pola soal tes. Ya ga mudah memang.. tapi sekali lagi i tried, dengan percaya pada diri sendiri tanpa bantuan orang  lain.

Mungkin, bapak saya cemas dan menginginkan yang terbaik. Dan merasa saya ga maksimal dalam mengerjakan tes. Tapi kan yang menjalani saya?

Saya percaya kalau saya gagal atau tidak mendapatkan sesuatu yang saya inginkan, berarti itu bukan yang terbaik bagi saya. Doa orangtua memang mustajab. Tapi saya juga mempunyai doa saya sendiri yakni meminta yang terbaik dalam hal apapun.

Bagi saya, yang dibutuhkan bagi orang yang selalu mengalami kegagalan hanyalah support. Sepele sih hanya itu. Tapi pernah ga sih ngalamin kalau kita lagi down banget ada aja yang ngasih kita support dan membuat kita jadi semangat lagi mengejar impian kita? It's beautiful and powerful to hear than anything.

Pilih-lah kata-kata yang baik yang terkesan tidak membandingkan atau menyepelekan. 

Inna shafa wal marwatha,

Siti Hajar saja harus bolak-balik dengan total 7 kali bukit shafa-marwa untuk mendapatkan air untuk nabi Ismail yang kehausan. Tapi pada akhirnya air tersebut malah muncul di kaki nabi Ismail dan mengalir sampai sekarang yang kita kenal sebagai air zam-zam. 

Yang terpenting memang usaha. Seterusnya biar Allah-lah yang mengatur semuanya. Sesungguhnya hanya Dia yang berhak menghendaki apa pun.

"Kegagalan sebagai ujian kesabaran, kegagalan melihat kelemahan diri dan kualitas kekuatan" -mamah Dedeh 

Saturday, December 31

Hey, look at (Your)self !


Tinggal beberapa jam lagi menuju tahun 2017. Tentunya akan ada resolusi-resolusi baru yang ingin dicapai. Walaupun resolusi tahun 2016 masih ada yang belum tercapai.

"Kok aku kaya gini-gini aja ya?". 

Itu pemikiran saya beberapa bulan lalu. Lalu, teman saya membalas "Aku gak ah, justru lebih banyak belajar, traveling dan sebagainya". Bahkan dia "meng-hadiahi" dirinya dengan kacamata baru dikarenakan matanya yang minus (you know who you are :p)

Saya terdiam.

Sempat sedikit merasa iri (tadinya).

Sampai beberapa bulan ke depan, saya melihat post seseorang di Instagram Story. Quote bertuliskan "What's the most important thing  you've done this year? Survived"

Lalu, langsung buru-buru saya capture quote tersebut. Dibuat mikir. "Iya juga yha, hahaha" gumam saya dalam hati. Saya terlalu sibuk melihat perubahan orang lain tapi nggak peka dengan perubahan saya sendiri. Mungkin memang gak terlihat secara langsung alias harus dipikir "melihat" kebelakang.

Survived. Ya. Saya survived.

Satu kata tapi banyak makna.

Ternyata, perubahan yang ada dalam diri saya adalah mampu bertahan dengan keadaan yang ada. Mungkin sepele sih. Tapi, mungkin bagi kalian survived disini layaknya orang hidup yang mampu bertahan dalam kehidupan. Tapi, saya memaknainya bukan seperti itu. Namun, lebih ke "pembawaan diri" saya. 

Saya survived dengan keadaan yang cukup lama menjadi pengangguran. Kalau ibu hamil, udah brojol lah ini.

Saya survived untuk tidak merasa iri ketika teman-teman saya berlibur ke luar kota dengan penghasilan masing-masing sedangkan saya masih menjadi jobseeker.

Saya survived dengan kondisi keuangan dan bisnis yang ada.

Saya survived untuk berusaha tidak mengeluh seburuk apapun keadaan yang ada.

Saya survived dengan memakai hijab ini walaupun banyak sekali godaan untuk melepasnya hahaha tapi saya selalu inget alasan dan tujuan saya di artikel It's an obligation.

Saya survived untuk selalu ber-positive thinking dengan segala tekanan dan keadaan buruk.

Saya survived untuk tidak terlalu addict dengan media social. FYI, I just deactivated my Instagram.

Yaa, itu yang saya telat sadari kalau saya pun "ga gitu-gitu aja". Saya pun juga berubah. Sebelum membanggakan orang lain, ada baiknya kita melihat diri kita sendiri dulu. Kalau bukan kita yang meng-apresiasi diri kita, siapa lagi coba?

Bukan condong ke arah sombong. Tetapi untuk lebih banyak bersyukur :)



Happy New Year 2017!
Xx,

sonia